零-zero-
Chapter 2
<Catatan Penelitian : Upacara terlarang yang diadakan di Himuro Mansion>
Keluarga Himuro yang selama berabad-abad dipercaya sebagai keturunan dewa setempat konon telah melakukan berbagai upacara berdarah yang menelan banyak korban.
Tetapi, nyaris tidak ditemukan catatan atau dokumen resmi mengenai kegiatan mereka. Hanya kabar angin yang disampaikan dari mulut ke mulut.
Hal ini dipersulit dengan tutup mulutnya orang-orang yang punya hubungan dengan keluarga ini, maupun orang-orang yang terlibat dalam upacara itu.
Banyak hal yang tidak diketahui bersangkutan dengan upacara disana, terutama upacara yang dilakukan setiap tanggal 23 Desember. Penduduk desa sekitar konon tidak boleh keluar dari rumah pada hari itu. Jendela-jendela juga harus ditutup.
Konon semua kepercayaan itu ada hubungannya dengan upacara kejam yang dilaksanakan di Himuro mansion, tapi tidak ada catatan yang bisa menerangkannya dengan jelas.
<Rahasia dibalik Nawa no Miko (Rope Shrine Maiden)>
Ditilik dari catatan yang tersisa, keterangan yang paling banyak kulihat adalah yang berhubungan dengan [Nawa no Miko].
Konon orang yang terpilih hidup dengan tali yang melilit tangan, kaki dan leher. Tetapi, apa gunanya dan perannya dalam upacara keluarga ini, tidak diketahui.
Salah satu sumber mengatakan kalau mereka ini adalah tumbal upacara, tapi rasanya sulit dipercaya ada yang tega melakukan upacara menggunakan tumbal semacam ini.
<Bencana yang disebut The Calamity>
Dahulu, konon ada suatu bencana yang menimpa daerah ini. Oleh orang-orang, bencana itu disebut The Calamity. Sayangnya, tidak ada catatan yang menggambarkan seperti apa bencana itu.
Salah satu dokumen yang ketemukan mengatakan, ‘Saat cermin yang ada di kelima kuil pecah, para orang mati akan bangkit kembali’. Apakah memang ada bencana separah itu?....
<Catatan Penilitian Munakata Ryozo>
***
<Hinasaki Mafuyu>
Kami menempuh dua jam perjalanan dengan kereta Shinkansen menuju Tohoku lewat stasiun Ueno. Berikutnya, kami ganti naik kereta biasa dan turun di sebuah stasiun bernama ‘Sungai M’ setelah satu jam. Setelah itu digoncang-goncang selama satu jam di dalam bus, dan akhirnya kami tiba di desa tujuan kami.
Desa dengan rumah yang menjadi ide Himuro Mansion.
Kami datang bertiga; Aku, pak Ioka, dan pak Shibaguchi. Selama perjalanan, aku telah menghabiskan waktu dengan bertanya macam-macam pada pak Shibaguchi. Dia menceritakan beberapa kejadian aneh selama proses pembuatan naskah Zero.
“Saya sebenarnya tidak percaya hantu, tapi selama masa penulisan, saya mengalami kejadian-kejadian aneh. Tengah malam, saat saya sedang menulis skenario, tiba-tiba AC mati sendiri. Padahal masih baru, jadi aneh kalau rusak. Waktu keesokan harinya saya panggil tukang servis, AC itu berfungsi dengan baik. Yah, itu mungkin bisa dibilang kebetulan. Tapi besoknya, pak Kitaike bercerita kalau AC di rumahnya juga mengalami kejadian serupa. Mati mendadak, tapi tidak apa-apa waktu diperiksa ahlinya.”
Pak Shibaguchi kemudian melanjutkan,
“Lalu ada juga kejadian begini. Waktu itu saya sedang menginap di kantor untuk menyelesaikan bagian akhir skenario. Tiba-tiba, dari pintu ruang sebelah yang terbuka, muncul wajah yang mengintip, tapi langsung menghilang begitu saya mengangkat kepala untuk memperhatikannya lebih jelas. Penglihatan saya tidak begitu bagus, jadi saya pikir itu cuma salah seorang staff yang sedang iseng saja. Tapi, setelah satu jam, kejadian itu terus terulang. Akhirnya saya mengintip kamar sebelah. Ternyata tidak ada siapa-siapa disana.”
“Apa tidak dilakukan pengusiran setan atau yang sejenisnya?” tanya Pak Ioka.
“Yah, seperti yang saya bilang tadi; Saya tidak percaya pada hantu dan yang sejenisnya. Pak Kitaike juga mengatakan itu tidak perlu.”
“Apakah setelah itu kejadian aneh masih terus berlanjut?”
“Ya. Ada suara jeritan di dalam game yang tidak pernah kami rekam sebelumnya, lalu munculnya jejak kaki di beberapa tempat dalam game, yang sebetulnya belum diprogram.”
“Ini sih kutukan!! Iya kan, Hinasaki-san?” Pak Ioka memegangi kedua lengannya sendiri. Sepertinya dia merinding.
Aku sebisa mungkin ingin menghindari topik semacam ini, jadi aku langsung berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Apakah rumah yang akan kita kunjungi ini sebegitu miripnya dengan Himuro Mansion?” tanyaku.
“Struktur bangunan dan atmosfirnya sama, tetapi detil-detil kamar dan beberapa bagian lainnya adalah ciptaan kami.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan isinya? Itu lho, keluarga Himuro yang secara turun-temurun menjadi penjaga gerbang Yomi, atau Strangling Ritual, atau upacara yang gagal dan pembunuhan yang dilakukan oleh Nawa no Miko itu, apa itu betul-betul ada?” Pak Ioka ganti bertanya.
Wajah pak Shibaguchi terlihat agak bingung mendengar pertanyaan pak Ioka, tetapi dia langsung menyembunyikannya sambil tertawa dan menjawab,
“Tentu saja buatan.”
“Syukur, deh. Seram kan kalau benar-benar ada yang seperti itu.” Pak Ioka tertawa. Tapi aku jadi penasaran dengan ekspresi bingung yang tadi ditunjukkan pak Shibaguchi.
Sialnya, tidak ada kesempatan bagiku untuk menanyakan penyebabnya. Tapi, kalaupun ada juga, aku harus tanya seperti apa? Akhirnya aku cuma bisa diam dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Sisa perjalanan kami dihabiskan dengan mendengarkan cerita pak Shibaguchi mengenai kehidupan keluarganya yang...yah, sebut saja makmur sejak zaman Edo.
Kalau ceritanya itu memang benar.....
***
Saat kami tiba di desa, hari sudah sore.
“Sudah sore, nih. Kalau begitu, kita cari penginapan dan besok kita mulai penyelidikan pagi-pagi saja bagaimana?” Pak Ioka mengusulkan. Tapi aku langsung menolaknya.
Bukan karena aku madatan ingin melihat rumah itu, tapi aku ingin secepatnya mencari Miku. Bayangan Miku tak pernah lepas dari benakku selama perjalanan tadi.
Masalahnya, selama memikirkannya, terkadang bayanganku jadi agak over, dan membayangkan foto adikku di altar persembahan dengan bingkai hitam. Aku menggelengkan kepalaku setiap kali pikiranku mulai melenceng ke arah sana, sehingga pak Ioka menyangka aku ngelindur dan berkali-kali menertawakanku.
“Wah, itu sih maksa namanya, Hinasaki-san. Rumah itu ada di tengah gunung. Jauh dari desa ini. Lagipula, itu kan rumah kosong. Mana boleh kita seenaknya saja ke sana. Selain itu, masak kita mau bermalam disana?”
“Saya tahu ini memaksa. Tapi saya ingin secepatnya kesana.” ujarku setengah memaksa. Pak Ioka kelihatan bingung. Dia menatap pak Shibaguchi untuk minta dukungan. Tapi Pak Shibaguchi malah berkata,
“Saya rasa tidak apa-apa, kok. Waktu saya kemari untuk survey, penjaga rumah itu sudah memberikan izin untuk mengunjungi rumah itu kapan saja, dan tidak usah lapor dahulu pada dia. Saya juga pernah bermalam disana, kok.”
“Ya ampun....Serius, nih?” Pak Ioka pasang tampang seperti hampir menangis. Padahal tempo hari dia yang paling gagah mengusulkan ke tempat ini. Aku jadi agak tidak enak juga padanya. Sudah kecapekan setelah menempuh perjalanan sepanjang itu, menginapnya di rumah kosong yang dijadikan model untuk setting game horror pula.
Aku sendiri sebenarnya juga bukannya sok berjiwa muda dan tidak takut. Tapi aku ingin secepatnya menolong Miku, dan jujur saja, aku tak ingin menundanya sama sekali.
Akhirnya, setelah aku memaksa sedikit lagi, mereka berdua setuju untuk langsung ke rumah itu. Kami mampir sebentar di rumah keluarga pak Shibaguchi untuk mengambil perlengkapan serta perbekalan, kemudian berangkat menuju rumah itu.
Kami menyusuri pematang sawah menuju gunung. Semakin lama, cahaya dari desa tidak lagi tampak. Kami hanya diterangi oleh cahaya matahari senja yang merah saat menelusuri jalan gunung yang semakin menyempit.
Sinar matahari itu begitu terang, merah...bagaikan darah yang mengalir dari tubuh yang terpotong-potong, mewarnai langit di atas kami....
Tentu saja aku tidak mengutarakan isi kepalaku itu kepada pak Shibaguchi dan pak Ioka. Tanpa aku menambah tegang suasana pun wajah mereka berdua sudah terlihat tegang.
Sepertinya, mereka bukan hanya kelelahan. Seperti aku juga, mereka mulai merasakan sesuatu....
Matahari sudah tenggelam saat kami mencapai rumah itu.
Kami membawa senter, tetapi karena malam itu ada bulan, kami tak perlu terlalu khawatir tentang cahaya.
Saat berdiri di hadapan satu-satunya bangunan di tengah gunung itu, aku merasa ada sesuatu yang dingin merayap naik dari dasar tanah tempatku berpijak.
Malam ini sangat sunyi, dan angin pun tidak bertiup. Tapi seluruh rumah itu seolah memancarkan gelombang panas yang menggelora.
Itu, tak diragukan lagi, adalah kekuatan roh yang luar biasa banyak dan kuat sekali.
Kekuatan roh yang memancar dari rumah itu bagaikan badai yang menghantam permukaan laut.
Mereka seolah-olah murka karena kedatangan kami...
“Ada apa?” Pak Ioka menanyaiku. Dia sepertinya tidak merasakan apa-apa. Yah, dia kan tidak punya kekuatan roh....
“Tidak ada apa-apa.” jawabku setenang mungkin. Di dalam benakku, kata-kata Ibu kembali terngiang.
Di dunia ini ada tempat yang harus dihindari, tempat dimana kita tidak akan bisa kembali jika sampai menginjaknya.
Rumah ini adalah contoh terbaik untuk tempat yang didefinisikan beliau.
Tapi kali ini aku tak bisa kabur pulang.
Karena di sini ada petunjuk mengenai Miku, adikku yang saat ini eksistensinya seolah tidak pernah ada di dunia ini.
Petunjuk...kata-kata itu mungkin tidak tepat juga, karena aku berpendapat, rumah ini sendirilah yang telah menangkap adikku.
Sampai saat ini aku memang tidak punya keyakinan seperti itu, tapi, sekarang, setelah menghadapi rumah ini, aku yakin, memang itulah yang terjadi.
Semua kejadian ini bukan hanya sekedar kebetulan belaka.
Roh jahat yang bersemayam di rumah inilah penyebab semua masalah yang kualami.
Aku menatap tajam ke arah Pak Shibaguchi.
Aku nyaris berkata, ‘Kenapa anda bisa-bisanya memilih tempat penuh roh jahat seperti ini sebagai model...’, tetapi Pak Shibaguchi sudah berjalan menuju rumah itu.
Sosok belakangnya tidak tampak seperti seseorang yang tengah menyembunyikan sesuatu.
Seperti boneka.
Pikiran itu tiba-tiba saja terlintas di benakku.
Pak Shibaguchi dikendalikan sesuatu.
Aku tidak tahu apa yang membuatku berpikir demikian, tapi aku mulai bisa melihat jawabannya.
Siapa...atau tepatnya, APA yang mengendalikannya?
Jawabannya ada di hadapanku.
Kekuatan spiritual yang ada di rumah inilah yang telah mengendalikannya.
Semakin Pak Shibaguchi mendekat, gelombang panas dari kekuatan roh yang dipancarkan rumah itu terlihat semakin kuat di mataku.
Desiran suara yang bukan berasal dari alam ini mulai terdengar. Bagi kami yang sudah mulai tegang, suara itu terdengar seperti suara tawa yang dingin....
“Itu suara burung malam, ya?” Pak Ioka celingak-celinguk. Sepertinya dia sudah mulai ketakutan,
Padahal ini baru pembukaannya saja. Tapi kalau kujelaskan juga dia tak akan mengerti.
Selain itu, kami toh harus menginap di rumah penuh kekuatan roh ini, karena hari sudah malam.
“Mungkin anda sebaiknya pulang saja.” kataku kemudian.
Pak Ioka kelihatan kurang senang. “Saya sendirian?”
“Ya. Besok pagi tolong anda jemput kami berdua.” aku mengatakan hal itu karena mengkhawatirkannya. Tapi sepertinya dia malah tidak suka.
“Sudah jauh-jauh sampai sini, masak hanya saya saja yang ditinggalkan?” protesnya. Aku tak bisa membalas protesnya itu.
Masalahnya, apa bisa pak Ioka memahami penjelasanku, sedangkan dia tidak punya kekuatan spiritual sama sekali? Apa dia tahu betapa berbahayanya tempat yang akan kita kunjungi ini? Aku sendiri, kalau tidak ada masalah Miku, tidak akan pernah mau menginjak tempat ini.
Ini tempat yang bisa membuat kita pulang dan merayap masuk ke dalam selimut untuk menggigil ketakutan, setelah sebelumnya menyucikan diri dengan garam dan air suci, atau yang sejenisnya.
Aku sih masih lumayan, karena punya sedikit kekuatan roh. Tapi pak Ioka bisa dibilang tanpa pertahanan sama sekali. Bagaimana kalau ada apa-apa dengannya?
Selain itu, pak Shibaguchi agak aneh.
“Bagaimana nih?” dia berhenti berjalan untuk berpaling dan bertanya padaku dan pak Ioka.
Saat itu, tiba-tiba muncul kabut putih berbentuk tangan-tangan yang tak terhingga jumlahnya dari arah rumah. Tangan-tangan itu memegangi tubuh pak Shibaguchi, seolah-olah ingin menangkapnya.
Aku nyaris saja menjerit, tapi pak Ioka keburu berkata,
“Ayo! Kalau cuma segini sih, Saya tidak masalah!” dia melengos dan menyusul pak Shibaguchi.
Sepertinya dia memang marah.
Aku menyesal telah mengajukan kesediaanku mendatangi tempat ini bersamanya. Tapi aku tak bisa mundur lagi. Aku ingin segera menolong Miku dari tempat penuh roh jahat ini.
Semakin lama waktu berlalu, keselamatan jiwa Miku semakin terancam.
Dia akan terperangkap dalam rumah ini, dan kehilangan eksistensinya di dunia nyata. Hanya akan menjadi karakter di dalam dunia game ‘Zero’.
Maaf.
Sambil berkata begitu di dalam hati, aku menyusul pak Ioka.
***
Dengan bantuan senter, kami mulai berjalan memeriksa rumah itu. Anehnya, begitu kami memasuki rumah, hawa spiritiual yang menyesakkan itu berangsur-angsur menghilang, seperti suara yang diredam.
Semua hal menyeramkan tadi seolah-olah hanya mimpi.
Tapi ini justru membuatku semakin tidak nyaman dan takut. Kesunyian yang mencekam ini seolah-olah menyembunyikan sesuatu yang siap menerkam dan menghancurkanku kapan saja...
MIku! Kalau kau dengar, jawablah!! Mikuuu!!!!
Aku terus meneriakkan itu di dalam hatiku selama menjelajahi isi rumah dengan senter. Kami berdua memiliki kekuatan spiritual yang memungkinkan kami mendengar atau melihat hal-hal yang biasanya tidak terlihat atau terdengar oleh orang biasa. Karena itu, mungkin...tidak...aku harus percaya....dengan begini, Miku bisa mendengar suaraku.
“Hebat, ya. Dari ujung sampai ke ujung, semua mirip sekali dengan Himuro Mansion di dalam game itu. Perapian tua itu, cermin di koridor, lemari tua, sampai baju zirah pajangannya pun sama persis.” Pak Ioka berkata.
“Sebegitu miripnyakah?”
“Kalau ada anak perempuannya, 100 persen sama.”
“Eh?...Anak perempuan?...”
“Lho? Hinasaki-san main gamenya juga kan?”
“Ya. Tapi saya game over mululu di tengah jalan. Sacret Water dan Herbal Medicine kehabisan stok, Stone Miror juga sudah habis saya punguti.” yang kubicarakan adalah healing item di dalam game.
“Saya sudah menamatkannya 3 kali. Ah, mengenai anak perempuan tadi itu, Saya cuma bercanda lho ya. Dia itu salah satu hantu yang ada dalam game. Kalau memang ada betul, saya juga takut.”
Bercanda, toh.
Aku agak keki juga mendengarnya, tapi sekaligus juga kagum dengan semangat pak Ioka. Dia sudah menamatkan game itu tiga kali, hanya berselang tiga hari dari hari kami menerima versi beta game itu.
Pak Ioka sepertinya juga memikirkan hal itu dan tertawa malu-malu. “Saya sampai didamprat atasan. Katanya, jangan main game melulu di waktu kerja.”
“Ngomong-ngomong, pak Ioka tidak merasa aneh dengan viusalisasi editor Ogata Kouji di game itu? Dia mirip sekali dengan anda kan?”
Pak Ioka menggelengkan kepalanya dengan heran. “Jangan begitu, dong. Mentang-mentang kami sama-sama editor majalah. Rambut saya kan coklat.” dia menyorotkan senter di tangannya ke arah rambutnya yang dicat coklat.
Aku merasakan sesuatu yang aneh dari perkataannya, tapi tidak bertanya lebih banyak lagi. Sudah terlalu banyak hal aneh disini tanpa aku perlu menambahkannya.
“Yah, kalau memang rumah ini sebegitu miripnya, tidak sia-sia dong kita kemari untuk referensi novel itu.” kataku.
“Benar juga, ya. Tapi, pak Shibaguchi, Anda seharusnya bilang, dong kalau sebegitu miripnya.”
Pak Shibaguchi tidak menanggapinya. Tidak terlalu jelas karena suasana remang-remang, tetapi wajahnya terlihat tegang.
Dan dia gemetar.
Aneh. Apa cuma perasaanku saja?
“Ada apa, Pak Shibaguchi?” Pak Ioka kelihatannya sadar ada yang aneh dengan pak Shibaguchi.
“Bukan....” Pak Shibaguchi membuka mulut setelah beberapa saat.
“Apanya yang bukan?”
“Saya memang memakai rumah ini sebagai model, tapi saya tidak membuat detail-detail di dalamnya sama persis dengan konsisi aslinya.”
“Anda ngomong apa, sih? Semuanya kan sama persis begini? Jangan menggoda kami begitu, ah. Tidak lucu.” Pak Ioka menanggapinya sambil tertawa. Tapi pak Shibaguchi menatapnya dengan tajam.
“Saya serius! Selain itu, kondisi rumah ini sangat jauh berbeda dengan saat kami datang kemari untuk survey! Waktu itu, rumah ini tidak terlantar seperti ini, dan masih layak dihuni. Tapi sekarang.....ini...benar-benar seperti Himuro Mansion di dalam game...”
“Ya...yang benar sajaaaa!!” Pak Ioka menatapku dengan pandangan ketakutan. Pak Shibaguchi juga semakin gemetar. Dia memegangi kepala dengan kedua tangannya dan terduduk di lantai.
Mendadak, hawa gaib yang tadi sudah surut meningkat lagi dengan drastis dan mengelilingi kami.
Pilar-pilar penyangga rumah mulai berderit. Kertas pintu sorong yang sudah robek-robek bergerak keras seolah ditiup angin.
Padahal tidak ada angin sama sekali!
Dari kejauhan terdengar suara derap kaki yang berjalan di lantai tanpa menggunakan alas kaki.
“Anda dengar yang barusan itu?” tanya pak Ioka.
Sepertinya keadaan sudah sampai ke tahap paling gawat, dimana bahkan orang yang tak punya kekuatan spiritual pun bisa merasakan keanehan tempat ini.
“Sebaiknya kita cari tempat untuk beristirahat dulu. Mondar-mandir tanpa tujuan begini hanya akan menambah lelah.”
Aku dan pak Ioka membantu pak Shibaguchi berdiri. Kami memilih beristirahat di tangga yang menghadap taman yang ada pohon sakuranya. Tapi, walaupun sudah beristirahat, pak Shibaguchi tidak berhenti gemetar juga.
Suhu udara turun karena sudah malam, tapi ini sebetulnya belum bisa dibilang dingin. Pak Shibaguchi membungkus dirinya dengan selimut yang kami bawa dari rumahnya tadi, tapi tetap tidak bisa berhenti menggigil.
Aku tahu apa penyebabnya.
Dan jelas sekali, bukan kedinginan karena suhu sekitar yang memang dingin.
Dia ketakutan.
Aku duduk di sebelahnya dan menepuk bahunya, “Jangan ketakutan sendiri begitu. Ceritakanlah pada kami.”
Pak Shibaguchi hanya membisu.
Aku menarik nafas untuk menenangkan diri. Perasaan ingin segera mencari Miku memang mendominasi pikiranku, tapi saat ini, aku harus tenang.
Aku harus mencari tahu dulu kondisi rumah ini dari pak Shibaguchi, baru setelah itu memutuskan akan mulai mencari petunjuk dari mana. Selain itu, roh-roh gentayangan punya kebiasaan menampakkan diri jika merasa ada manusia disekitarnya yang tidak tenang, dan akan semakin kuat jika manusia itu takut pada mereka.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, yang harus dilakukan pertama-tama adalah menenangkan pak Shibaguchi. Aku mulai berbicara padanya dengan suara rendah, seolah-olah ingin menghipnotisnya. Pak Ioka juga duduk di sebelah pak Shibaguchi dan mendengarkan ucapanku dengan serius. Sepertinya ia cukup paham akan kondisi rumah ini sekarang.
Sepuluh menit berlalu.
Pak Shibaguchi akhirnya membuka mulut,
“Seperti yang sudah kalian ketahui, saya memilih tempat ini saat survey karena kebetulan saja teringat. Waktu itu, suasananya memang sunyi, tapi tidak ada perasaan menyeramkan seperti ini. Makanya kami sampai berani memutuskan menginap semalam disini. Tapi, setelah kembali ke Tokyo, kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan.”
“Ah, yang Anda ceritakan di dalam kereta tadi?”
“Ya...Selain itu...” seperti roda gigi yang mendapat pelumas, dia mulai bercerita dengan mulusnya,
“Setelah berkunjung ke rumah ini untuk mencari bahan tempo hari, ide-ide yang selama ini agak tersendat mengalir dengan lancar. Tapi, rasanya seperti bukan diri saya sendiri…. Tubuh saya bergerak sendiri seolah dikendalikan oleh sesuatu yang ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini.
“Naskah yang selesai padahal saya tinggal tidur sebelum rampung, penambahan scene yang seharusnya hanya ada dalam rancangan…Yah, memang ada kemungkinan ini bantuan dari Kitaike, tapi….
“Selama masa pembuatan, Saya tidak pernah memikirkannya secara serius. Baru setelah semua rampung, saya mulai menyadari kejanggalan-kejanggalan ini dan merencanakan kunjungan ulang kesini. Kesempatan langsung tiba saat pak Ioka mengusulkan kita kemari. Tapi…kenapa jadi begini?...” Pak Shibaguchi kembali memegangi kepalanya.
“Tapi kalau begitu, tempat kalian berada sekarang ini sebetulnya apa?”
Suara itu mendadak terdengar begitu saja.
Aku tersentak kaget dan melihat sekeliling.
Itu suara Takamine Sensei! Tak salah lagi.
Tapi aku tak melihat adanya sosok yang seperti beliau di sekitar sini.
Yang mengejutkan bukan hanya itu.
Begitu aku menoleh kembali, pak Ioka mendadak menghilang. Padahal tadi dia duduk disana, di anak tangga itu.
“Pak Ioka!!!”
Suaraku bergema di ruangan itu. Tapi tak ada respons sama sekali. Aku berpaling ke arah pak Shibaguchi,
“Pak Shibaguchi!! Pak Ioka hilang!!”
“Pak Ioka?....Siapa itu?” Pak Shibaguchi menanggapinya, masih sambil menunduk.
Untuk sesaat aku shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Bukan hanya karena tanggapannya, tapi suara Pak Shibaguchi barusan adalah suara Takamine -sensei.
Pak Shibaguchi perlahan berdiri dan berjalan ke arah taman dengan pohon sakura di dalamnya. Setiap kali dia melangkah, sosok belakangnya pelan-pelan terlihat diselimuti kabut, dan perlahan-lahan berubah menjadi sosok belakang Takamine-sensei.
“Sensei!! Takamine-sensei!!”
Dipanggil begitu, dia berhenti berjalan dan menoleh perlahan ke arahku.
Dengan wajah berlumuran darah segar.
Aku langsung menjerit ketakutan.
Suara teriakanku bergema di seluruh penjuru taman. Seolah menunggu momen itu, pohon sakura yang diterangi cahaya bulan di tengah taman itu mulai berguguran.
Sebagai gantinya, sosok Takamine-sensei menghilang di tengah-tengah bunga yang berguguran itu.
Tapi kejutan belum berakhir.
Mulutku mendadak berbisik sendiri;
“Yang barusan itu…tak salah lagi!! Takamine Sensei, yang sedang dicari-cari Kakak!”
Miku!!
Aku berusaha berteriak, tapi suaraku tidak keluar. Sebagai gantinya,
“Kakak?” mulutku kembali bergumam.
Suara Miku keluar dari mulutku.
Aku memperhatikan tanganku. Tangan yang kecil dengan jari-jarinya yang mungil. Ini bukanlah tanganku.
Hal yang sulit dipercaya, memang. Tapi, sepertinya aku telah menjadi Miku.
Miku sedang menjelajahi rumah dengan senter di tangannya. Aku memusatkan pikiran dan memanggil Miku sekuat tenaga.
Miku. Aku disini, Miku!!!
Tapi, setelah mengatakan itu, aku tercenung sendiri.
Aku mengatakan aku ada disini. Tapi, dimana sebenarnya aku berada?
Tidak…aku sedang menghilang.
Yang tersisa dariku hanyalah kesadaran yang saat ini tengah menetap di dalam tubuh Miku. Aku melihat dunia ini sebagai Miku. Dan bukan hanya itu.
Aku juga berpikir dan merasakan segala sesuatu sebagai Miku.
Tapi, aku tidak bisa lepas dari Miku.
Sekuat apapun aku berkonsentrasi memanggilnya, yang terdengar oleh telinga Miku hanyalah suara yang sayup-sayup. Miku yang sedang gundah tidak menanggapinya dengan serius dan menganggap itu semua hanya perasaannya.
Ya. Aku mengerti sebab saat ini, seluruh perasaan dan apa yang dipikirkan Miku tersampaikan padaku.
Miku ketakutan. Dan dia tengah menangis tanpa suara.
Kakak. Kakak dimana? Kumohon...kembalilah. Kembalilah ke tempatku tanpa kurang suatu apapun.
Dia....memikirkan diriku sampai sejauh ini.....
Aku.....
Aku....
***
<Hinasaki Miku>
Kakak menghilang.
Hanya memikirkan hal itu saja sudah membuat Miku ingin menangis. Mafuyu menghilang. Padahal, bagi Miku, setelah kematian ibunya, satu-satunya yang bisa disebut keluarga olehnya hanya Mafuyu, Kakaknya.
Mafuyu menghilang saat mencari jejak penulis novel yang pernah membantunya, Takamine Junsei. Beliau dikabarkan hilang di Himuro Mansion ini. Dan sekarang, Mafuyu ikut menghilang.
Mafuyu memiliki kekuatan spiritual, sama seperti Miku. Dia pasti juga merasakan perasaan tidak nyaman yang langsung menyergap begitu mendekati tempat ini. Tapi dia tetap masuk, dan sejak itu tidak terdengar kabarnya lagi.
Mafuyu memang seperti itu. Dia tipe orang yang tidak ragu-ragu untuk terjun ke sungai demi menyelamatkan orang yang disayanginya, sekalipun dirinya sendiri tidak bisa berenang.
Tahu dirinya tidak akan selamat, tapi tetap berusaha menolong.
Miku sadar, kakaknya sering pusing menghadapi dirinya.
Setelah ibunya bunuh diri, Miku semakin tertutup pada orang lain. Bukannya dia suka menyendiri, tapi lebih karena dia sendiri tidak bisa membaur dengan mereka.
Sekalipun dia berusaha, itu tidak berlangsung lama. Hubungan pertemanan dengan cepat hancur, dan dia kembali seorang diri.
Dia sudah menyadarinya sejak dulu.
Sewaktu kecil, ketika bermain ‘Kagome kagome’ (permainan anak-anak Jepang dimana beberapa anak bernyanyi sambil berputar mengelilingi satu orang yang berjongkok di tengah-tengah mereka. Anak yang berjongkok itu harus menebak siapa yang berdiri di belakangnya ketika lagu berakhir) Miku selalu mampu menebak dengan tepat siapa yang berada di belakangnya. Dari 100 kali permainan, 100 kali pula tebakannya tepat.
Kekaguman teman-temannya hanya berlangsung sesaat. Tidak lama kemudian, semua itu berubah jadi tuduhan curang.
Tidak suka disebut curang, Miku membuktikan bahwa dia sama sekali tidak berbohong. Tapi yang terjadi malah dia dijauhi teman-temannya.
Kalau Miku mencoba mendekati, mereka langsung menjauh sambil pasang tampang tidak kenal.
Tidak tahu alasannya, Miku mengejar mereka. Tapi mereka malah berbalik mengejek dan menyakitinya.
Semua menganggapnya sebagai pengganggu.
Ketika tersadar, Miku menyadari bahwa dirinya bagaikan bermain ‘Oni gokko’ (setan-setanan). Hanya saja, ini bukannlah permainan belaka bagi Miku. Dia merasa dirinya benar-benar menjadi ‘oni’ atau setan.
Dalam permainan sekalipun yang namanya menjadi setan sudah tidak enak. Dan ini harus dialaminya di dalam kehidupan sehari-hari. Miku tidak pernah mengingat-ingat betapa dirinya terluka karena itu.
Perasaan yang tidak akan dimengerti selain oleh yang pernah mengalaminya.
Karena itulah Miku selalu menyembunyikan diri.
Menyembunyikan setan dalam dirinya.....bukan.
Miku tak pernah menganggap dirinya setan. Sama sekali.
Walaupun begitu, dia tidak bisa menjelaskan hal ini pada orang lain. Menjelaskan sekalipun tidak ada yang mau menerimanya.
Miku mengerti perasaan ibunya yang memilih untuk bunuh diri.
Sejak kecil, Miku sendiri sudah berkali-kali punya keinginan yang sama.
Seperti apa...seberat apa hidup yang telah dijalani ibunya hingga menjadi dewasa...Miku tak mau membayangkannya.
Mungkin orang akan menganggapnya tidak hormat jika sampai mengetahui hal ini, tapi ada dua hal yang selalu ingin dikatakan Miku kepada almarhum ibunya;
“Terima kasih”, dan “Syukurlah, dengan begini ibu bisa bebas.”.
Karena sebenarnya, kalau bisa, Miku memang ingin mati saja. Dan bukan cuma satu dua kali dia merasa seperti itu.
Jangan!
Memikirkan masa lalu seperti ini hanya membuat perasaan dan suasana semakin tidak nyaman saja.
Apalagi saat ini dirinya berada di mansion besar yang penuh dengan suasana mencekam dan penuh hawa aneh.
Setiap kali melangkah, terdengar bunyi derit menyeramkan dari lantai yang diinjaknya.
Di telinga Miku yang tengah ketakutan, suara itu terdengar seperti suara tawa terkekeh-kekeh.
Ditambah lagi, kadang-kadang dia melihat apa yang seharusnya tidak terlihat.
Ketika berbelok di sudut, mata Miku terbelalak dan dia langsung menutup mulutnya dengan kedua belah tangan untuk menahan jeritannya yang nyaris keluar.
Berjarak kira-kira lima sampai enam meter di hadapannya, berdiri seorang wanita mengenakan kimono putih yang acak-acakan.
Rambut hitamnya yang mencapai pinggang basah kuyup seolah-olah orang itu baru saja keluar dari air.
Tubuhnya kurus dan sempoyongan, seolah bisa ambruk setiap saat.
Tapi yang paling mengejutkan adalah matanya.
Di tempat yang seharusnya ada bola mata terlihat lubang menganga yang terus mengucurkan darah kehitaman. Sepertinya kedua matanya telah dihancurkan, entah oleh apa.
Wanita itu berjalan menyeret kakinya sambil mengacungkan kedua tangannya ke depan.
“Di mana....Ada di manaaa.....” wanita itu bergumam dengan suaranya yang terdengar seperti gemerisik kertas.
“Setan...”
Miku refleks bergumam begitu.
Bahkan dalam suasana mencekam semacam ini sekalipun Miku tidak bisa mencegah otaknya berpikir, sosok wanita yang tampak menyedihkan itu mirip seperti dirinya yang menjadi setan dalam ‘Oni Gokko’ dulu.
Suara Miku tidak luput dari telinga wanita itu.
Perlahan dia memalingkan wajahnya ke arah Miku. Kemudian, tidak seperti saat berjalan tadi, dengan langkah yang lebih cepat dia mendekati Miku.
“Tidak....Jangan mendekat...”
Mata Miku mengerjap, dan dia menggelengkan kepalanya.
Bukan! Aku bukanlah orang yang kau cari. Karena itu, jangan kemari.
Tapi, semakin dia membatin demikian, wanita itu seolah mendapat kepastian dan terus mendekatinya.
Miku merasa lehernya seperti tercekik.
Kakinya seolah membatu, tidak bisa bergerak.
Selama ini dia sudah sering sekali melihat penampakan yang tidak bisa dilihat manusia biasa. Tapi baru kali ini dia melihat yang begini jelas.
Sekali pandang saja sudah terlihat bahwa wanita di hadapannya jelas-jelas bukan penghuni dunia ini.
Tapi eksistensinya terasa begitu nyata, dan hal ini menimbulkan kepanikan serta kengerian yang tak pernah dirasakan Miku sebelumnya. Miku bisa merasakan nafasnya mulai terasa sesak.
Harus kabur!
Kalau sampai tertangkap, entah apa jadinya nasibku.
Sambil berpikir begitu, Miku berusaha menggerakkan kakinya yang bagaikan terpancang di tempat.
Tidak bisa...
Jarak wanita itu dengan dirinya sudah kurang dari lima meter.
Walaupun di dalam mansion itu gelap, tubuh wanita itu memancarkan cahaya redup seperti api arwah sehingga semakin dia mendekat, semakin jelas Miku dapat melihat wajahnya.
Darah merah kehitaman yang mengucur dari kedua lubang matanya terlihat sangat kontras di pipinya yang pucat pasi.
Warna merah itu bagaikan kebencian yang mengalir keluar dari dalam dirinya.
Tentu saja, dia bukannya membenci Miku secara pribadi. Tapi hal itu sudah tak ada hubungannya.
Mungkin yang dibencinya adalah orang-orang yang telah membuatnya jadi seperti ini.
Tetapi, setelah menjadi hantu dalam waktu lama, yang tersisa dari dirinya hanyalah kebencian terhadap dunia ini. Semua selain dirinya hanyalah objek untuk dibenci. Miku tahu dari pengalaman, bahwa kalau ada orang yang sampai bertemu makhluk macam itu, satu-satunya predikat yang tepat hanyalah nasibnya sedang malang.
Kumohon, pergilah ke sana! Kumohon!!
Miku merasa matanya mulai berair.
Wanita itu sudah berada persis di hadapannya.
Tanganya yang terulur bahkan nyaris menyentuh wajah Miku.
Saat itulah suatu pemandangan mendadak muncul di hati Miku, seolah ada yang menyalakan TV.
Pemandangan itu seperti film hitam putih yang sudah rusak.
Pemandangan di saat wanita itu kehilangan kedua matanya.
Beberapa orang yang tampak seperti pendeta memegangi wanita itu. Salah seorang diantaranya berusaha menempelkan semacam topeng di wajahnya.
Tapi itu bukan topeng biasa.
Lubang matanya tidak ada. Sebagai gantinya, di sisi dalam, dua buah duri mencuat di tempat yang seharusnya ada lubang mata itu.
Kalau sampai memakai topeng itu, si pemakai pasti akan langsung kehilangan matanya. Hancur oleh kedua duri tajam itu.
Ini penyiksaan.
Tidak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan ini semua selain penyiksaan.
Wanita itu memohon ampun, tapi para pendeta itu seolah tak peduli dan tanpa memperlihatkan keraguan sedikitpun langsung menempelkan topeng itu.
Jeritan yang seolah mampu merobek kerongkongan menggema di seluruh penjuru.
Ketika akhirnya para pendeta melepas pegangannya, wanita itu terduduk dan langsung melepas topeng yang melekat di wajahnya.
Tapi kedua bola matanya sudah tak ada, digantikan darah yang mengucur deras membasahi kimono putih yang dikenakannya.
Kejam! Kenapa harus melakukan hal seperti....Aaaah!!!
Selang beberapa detik setelah shock yang dialaminya karena melihat pemandangan menyeramkan itu, kengerian yang mirip perasaan sakit menyergap Miku.
Wanita itu telah menyentuhnya.
Miku merasa ada tangan-tangan yang terhitung jumlahnya menangkap dan memegangi tubuhnya. Rasa dingin terasa hingga ke tulang-tulang.
Harus kabur!!
Tapi tubuh Miku seperti terikat erat. Sama sekali tidak bisa bergerak.
2nd Night: Demon Tag
3rd Night: The Calamity
Final Night: Kirie
Previous page - Next page
Translated by Noir Ciel
Edited by Ryuu Nagareboshi
Zero © Hinasaki Mafuyu / Media Works