TOMOI
 

Author :  Akisato Wakuni
Publisher : Shogakukan
ISBN : 4091910440
Genre : Shoujo, romance, boys' love
Rating : 18
Cover :

゛宇宙いっぱいの愛
あなたにあげましょう゛

ゆれ動く樹樹
かけぬけて風
静かなる時

もどらない日び
かえらない愛
静かなる時

なくしたものはなにか
知らないけど 
夢ばかり見ていた
ただ そんな気がする

゛宇宙いっぱいの愛
あなたにあげましょう


Tomoi Hisatsugu adalah dokter muda dari Jepang yang bekerja di rumah sakit kota New York. Sebenarnya sang ayah menginginkan putranya mewarisi bisnisnya, namun Tomoi lebih memilih menjadi dokter. Dengan sangat terpaksa, si ayah melepas kepergian putranya ke luar negeri. Tubuh yang tinggi, kulit gelap, dan wajah tampan membuat Tomoi dijuluki Arabian prince di tempat kerjanya. Nyaris tidak ada yang tahu kalau Tomoi sebenarnya gay. Sudah sejak lama ia merasa dirinya berbeda dan tidak tertarik pada wanita. Ketika di New York inilah Tomoi bertemu seseorang yang membuatnya sadar akan jati diri yang sebenarnya. Richard Stein adalah dokter senior kebangsaan Jerman di rumah sakit tempat Tomoi bekerja. Mereka berdua memiliki kebiasaan buruk sama, yaitu sering tersandung atau menabrak sesuatu saat berjalan. Sudah bukan hal aneh melihat Tomoi tersandung tempat sampah atau Richard menabrak pintu. Bahkan dokter lain mengatakan kemiripan mereka berdua tidak hanya kebiasaan saja. Tomoi yang penasaran jadi sering memperhatikan gerak - gerik Richard. Richard yang jeli beberapa kali menangkap basah Tomoi memperhatikannya. Suatu hari Richard mengajak Tomoi makan malam sesudah keduanya menjalani operasi bersama. Stress mendengar Richard lulusan Harvard, Tomoi minum minuman keras sampai di luar batas. Melihat kondisi Tomoi yang mabuk berat, Richard membawanya pulang ke apartemennya. Mereka tidur di ranjang yang sama, namun tidak terjadi apa - apa. Di pagi hari, Richard mencium Tomoi yang masih hangover, lalu pergi ke rumah sakit. Saking kagetnya Tomoi tidak bisa berkata apa - apa, akhirnya ia kembali tidur di sisi ranjang yang ditiduri Richard semalam. Hubungan keduanya sempat menjadi canggung, sampai akhirnya Richard mengambil inisiatif duluan mendekati Tomoi. Setelah ini mereka resmi menjadi pasangan kekasih.

Richard memperkenalkan gaya hidup kaum gay di New York pada Tomoi, seperti pergi ke bar khusus gay dan mencari pasangan one night stand. Richard bahkan memperkenalkan Tomoi pada putra semata wayangnya. Hubungan keduanya baik - baik saja, sampai suatu saat mantan pacar Richard bernama Mike muncul. Mike yang cemburu nyaris menusuk Richard, namun dihalangi Tomoi. Suatu malam Richard menerima telpon  yang mengabarkan Mike telah meninggal karena AIDS. Menderngar itu Stein  memutuskan kembali ke Jerman. Tomoi tahu keputusan Stein karena tidak sengaja mendengar pembicaraan orang di rumah sakit. Dia segera mendatangi Stein untuk menanyakan kebenaran berita itu. Stein mengatakan ia akan kembali ke Jerman karena permintaan orangtuanya. Waktu Tomoi menanyakan bagaimana dengan dirinya, Stein menjawab sebaiknya ia pulang ke Jepang dan mencari kekasih baru, menurutnya Tomoi pasti mudah mendapat pasangan baru karena wajah tampannya. Tomoi meminta ikut ke Jerman, yang dijawab Stein hanya dengan perkataan bahwa Mike telah meninggal gara - gara AIDS. Setelah mengucap selamat tinggal Stein meninggalkan Tomoi sendiri di kantornya. Di apartemen Tomoi marah - marah karena tindakan Stein. Dia kecewa dengan tindakan Stein yang menurutnya pengecut. Tomoi menyusul Stein ke bandara Kennedy untuk menunjukkan ia tidak perduli pada apapun selain cintanya pada Stein, Namun ketika bertemu, ia hanya terpaku. Adegan perpisahan mereka cukup menyedihkan :
Stein : 日本語でさよならはなんていうんだ?(Apa bahasa jepangnya selamat tinggal >)
Tomoi : 。。。愛していたよ (... Aku mencintaimu)
Stein : なに?もう一度 (Apa ? Ulangi sekali lagi)
Tomoi : あ い し て い た よ (A ku men cin ta i mu)
Stein : 愛していたよ (Aku mencintaimu)
Tomoi : 愛していたよ (Aku mencintaimu)
Stein : じゃ。。。(Well then...)
Tomoi yang patah hati memutuskan kembali ke Jepang.

 Kepulangannya mengejutkan orangtua dan kakak - kakaknya karena ia samasekali tidak memberitahu akan kembali. Bukannya beristirahat, Tomoi malah langsung mencari Yukihiro, teman lama yang dulu ditaksirnya. Begitu bertemu ia langsung memeluk Yukihiro, tanpa perduli pacar temannya yang bengong melihat tingkahnya. Tomoi yang awalnya ingin merayu Yukihiro merasa terganggu dengan keberadaan pacar temannya, Rihoko. Berkali - kali ia menggoda Yukihiro, bahkan menciumnya di depan Rihoko, membuat gadis itu kesal. Riho meminta tolong ke sahabat perempuannya, Aiko. Namun suatu kejadian membuat Tomoi tahu Aiko diam - diam mencintai Rihoko. Hubungan Yukihiro dan Rihoko sendiri sebenarnya bermasalah karena ayah Rihoko tidak menyetujui hubungan mereka. Bahkan ayah Rihoko mendatangi apartemen Yukihiro untuk membawa pulang puterinya.  Untuk menyenangkan hati ibunya, Tomoi mau menemui gadis yang hendak dijodohkan dengannya. Tomoi datang ke rumah gadis itu dan bertemu sosok yang dikenalnya....Rihoko. Ternyata Rihoko adalah gadis yang akan dijodohkan dengannya. Tomoi mengajak Rihoko pergi dengannya naik mobil. Tomoi menakut - nakuti gadis itu kalau ia akan dibawa ke love hotel dan takkan bisa bertemu lagi dengan Yukihiro. Ternyata Tomoi sengaja melakukan ini supaya Yukihiro berani memberontak dan tidak pasrah pada nasib. Tujuan Tomoi tercapai karena Yukihiro berani menendangnya dan bertekad tidak perduli pada orangtua Rihoko yang menentang hubungan mereka.

Setting berpindah ke New York. Saat ini Tomoi sudah mempunya kekasih baru, Marvin Williams. Keduanya tinggal di gedung apartemen yang sama hanya beda lantai . Marvin terjebak dalam pernikahan tanpa cinta tanpa sanggup melepaskan diri. Tadinya Marvin hendak menceraikan Nancy, namun niatnya dibatalkan setelah Nancy mengaku mengandung anak milik mereka berdua. Nancy menertawakan penderitaan Marvin yang kini tak bisa bersama kekasihnya. 
Pada masa itu penyakit AIDS mulai menyebar, banyak pasien penderita penyakit itu datang ke rumah sakit tempat Tomoi bekerja. Tomoi pernah memergoki Marvin demam dan ada bercak di kakinya. Setelah memeriksa catatan kedokteran, akhirnya Tomoi tahu kekasihnya menderita AIDS. Tomoi tanpa rasa takut mengajak Marvin menikah. Pernikahan mereka dilakukan di apartemen, hanya dihadiri oleh mereka berdua.
Nancy yang saat itu merasa di atas angin, terkejut begitu tahu kekasih Marvin adalah pria. Pada saat bersamaan, Marvin akhirnya tahu ia menderita AIDS setelah melihat bercak di kaki dan membaca catatan kedokteran. Dia akhirnya juga tahu mengapa Tomoi mengajaknya menikah. Marvin yang mau mencari Tomoi bertemu dengan Nancy yang menyusup ke rumah sakit sambil membawa senjata. Nancy yang hendak mencari Tomoi malah menembak Marvin. Tomoi sendiri juga mencari Marvin setelah tahu kalau pasangannya itu sadar dirinya menderita AIDS. Bukannya Marvin, Tomoi malah bertemu Nancy yang mengarahkan senjata padanya. Marvin saat itu berhasil menyusul Tomoi, namun Tomoi melarangnya mendekat. Tidak perduli omongan Tomoi, Marvin maju menjadi perisai sehingga ia kembali terkena tembakan Nancy di tempat yang fatal. Kata - kata terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir,
"きみは地獄へは堕ちるな 。愛してる。"

Tomoi yang patah hati menjadi putus harapan. Yang diinginkannya adalah kematian dan berharap seseorang membunuhnya. Sambil membawa luka hati, Tomoi pergi ke Pakistan, menjadi dokter bagi pejuang Islam di negara itu. Kakinya menjadi pincang gara - gara terkena tembakan senjata musuh ketika mengalami serangan. Di camp tempatnya tinggal, ia akrab dengan Adeline, adik perempuan pasiennya yang menyamar jadi pria karena saat itu wanita dilarang ikut berperang. Sebuah serangan menewaskan kakak Adeline, menyebabkan gadis itu bisu karena shock melihat kakaknya tewas di depan matanya.
Semenjak itu Tomoi mengasuh Adeline yang mengikutinya ke mana ia pergi. Tomoi yang awalnya datang ke medan perang dengan tekad untuk mati, timbul kembali semangat hidupnya untuk melindungi gadis ini. Sayang serangan musuh menewaskan gadis itu. Tomoi yang sekarat karena terluka akibat serangan musuh lalu menghembuskan nafas terakhir. Kata - kata terakhirnya adalah "
神よ!もう。。。死んでもいいですか。ああ きょうも 空が。。。青い" (Tuhan, tidak apa jika aku mati sekarang. Hari ini langit pun...berwarna biru)
 

Personal comment :
Cerita Tomoi tergolong berat untuk shoujo manga. Dulu saya pernah membaca resensinya, ternyata setelah membaca sendiri, ceritanya jauh lebih berat dan suram dari yang saya bayangkan. Manga ini bersettingkan tahun 1982, saat AIDS masih ditakuti karena belum banyak orang tahu apa sebenarnya penyakit AIDS. Akisato  - sensei menggambarkan ketakutan dan prasangka buruk orang pada kaum gay yang dianggap penyebar AIDS.
Hal lain yang menarik dari Tomoi adalah konflik batin yang dialami karakter utama. Ketika Stein meninggalkannya, Tomoi tidak bisa menahan karena secara mental ia memang belum siap. Ketika Marvin terkena AIDS, Tomoi yang kini sudah jauh lebih dewasa bersikap berani dengan mengajak pasangannya itu menikah. Perkembangan karakter Tomoi tidak dibuat terburu - buru. secara pelan namun pasti kita bisa melihat perubahan sikap Tomoi yang belajar dari pengalaman pahitnya dahulu.
Ending yang diberikan sensei sangat berkesan. Memang pada akhirnya Tomoi tewas, namun ia tewas bukan karena mencari kematian, namun demi menyelamatkan kehidupan. Jika Tomoi dibuat tetap hidup, saya rasa manga ini tidak akan meninggalkan kesan yang dalam.
Terlepas dari unsur percintaan sesama jenis , saya sangat menganjurkan manga ini pada pembaca yang menyukai cerita serius dan bermutu, karena Tomoi meninggalkan pemikiran yang patut kita renungkan mengenai kehidupan dan hubungan sesama manusia.

Written by Ryuu Nagareboshi
 

Tomoi  © Akisato Wakuni / Shogakukan